BAB 9 : AWAMIL DAKHILAH ALAL MUBTADA WAL KHOBAR



(بَابُ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَى الْمُبْتَدَأِ وَالْخَبَرِ)

Bab ‘amil-’amil yang masuk ke mubtada` dan khabar.

 

 وَهِيَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: كَانَ وَأَخَوَاتُهَا، وَإِنَّ وَأَخَوَاتُهَا، وَظَنَنْتُ وَأَخَوَاتُهَا.

‘Amil ini ada tiga macam: pertama, Kana dan saudara-saudaranya. Kedua, huruf Inna dan saudara-saudaranya. Ketiga, Zhanantu dan saudara-saudaranya.


فَأَمَّا كَانَ وَأَخَوَاتُهَا فَإِنَّهَا تَرْفَعُ الْإِسْمَ وَتَنْصِبُ الْخَبَرَ، وَهِيَ: كَانَ وَأَمْسَى وَأَصْبَحَ وَأَضْحَى وَظَلَّ وَبَاتَ وَصَارَ وَلَيْسَ وَمَا زَالَ وَمَا انْفَكَّ وَمَا فَتِىءَ وَمَا بَرِحَ وَمَا دَامَ وَمَا تَصَرَّفَ مِنْهَا نَحْوُ: كَانَ وَيَكُونُ وَكُنْ وَأَصْبَحَ وَيُصْبِحُ وَأَصْبِحْ،

Adapun kana dan saudara-saudaranya, maka itu merafa’kan isim dan menashabkan khabar. Yaitu: كَانَ (ada) أَمْسَى (ada diwaktu sore) أَصْبَحَ (ada diwaktu subuh) أَضْحَى (ada diwaktu dhuha) ظَلَّ (ada  diwaktu siang), بَاتَ (ada diwaktu malam) صَارَ (menjadi) لَيْسَ (bukanlah) مَا زَالَ (tiada henti) مَا انْفَكَّ (tidak lepas) مَا فَتِىءَ (tidak berhenti) مَا بَرِحَ (tiada henti/ tidak tertinggal) مَا دَامَ (senantiasa/selagi tetap ada) dan lafadz-lafadz yang menjadi bentuk perubahan dari fi’il-fi’il madhi naqis tersebut. contohnya :

كَانَ (fi’il madhi = telah ada) 

يَكُونُ (fi’il mudhore = bakal ada/sedang ada)

 كُنْ(fi’il amr = ada-lah ! / jadilah)

 أَصْبَحَ(fi’il madhi = telah ada diwaktu subuh)

 يُصْبِحُ(fi’il mudhore = sedang ada diwaktu subuh / bakal ada diwaktu subuh)

 أَصْبِحْ(fi’il amr = ada-lah ! diwaktu subuh)

 

تَقُولُ: (كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا)، وَ(لَيْسَ عَمْرٌو شَاخِصًا)

Kamu berkata (dalam mencotohkan amal fi’il naqis) : 

كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا (zaid ada sebagai orang yang berdiri)

وَلَيْسَ عَمْرٌو شَاخِصًا (amr bukanlah orang yang sendirian)


وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

dan perkara yang menyerupai hal itu.


 

وَأَمَّا إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا فَإِنَّهَا تَنْصِبُ الْإِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ، وَهِيَ إِنَّ، وَأَنَّ، وَلَكِنَّ، وَكَأَنَّ، وَلَيْتَ، وَلَعَلَّ،

Adapun inna dan saudara-saudaranya menashabkan isim dan merafa’kan khabar. Yaitu: huruf إِنَّ (sesungguhnya), huruf  أَنَّ (sesungguhnya) لَكِنَّ (akan tetapi), huruf كَأَنَّ (seolah-olah seperti), huruf لَيْتَ (seandainya/andai saja/ semoga saja), huruf لَعَلَّ (seandainya/andai saja/ semoga saja)

 


تَقُولُ: إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ، وَلَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ،

Kamu berkata (dalam mencotohkan inna dan saudara-saudaranya) :


 إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ

(Sesungguhnya Zaid sedang berdiri)


لَيْتَ عَمْرًا شَاخِصٌ

(Sekiranya ‘Amr pergi), dan yang mirip dengan itu.


 

وَمَعْنَى إِنَّ وَأَنَّ التَّوْكِيدُ، وَلَكِنَّ لِلْإٍسْتِدْرَاكِ، وَكَأَنَّ لِلتَّشْبِيهِ، وَلَيْتَ لِلتَّمَنِّي، وَلَعَلَّ لِلتَّرَجِّى وَالتَّوَقُّعِ.

Makna “inna” dan “anna” adalah penegasan kalam, “lakinna” adalah ma’nanya istidrak (menetapkan hukum yang menyelisihi hukum sebelumnya), “ka`anna” untuk tasybih (menyerupakan), “laita” untuk mengangankan, “la’alla” untuk tarajji (mengharapkan sesuatu yang disenangi.) dan tawaqqu’ (mengkahwatirkan akan terjadinya suatu perkara yang tidak disenangi atau disukai).

 

وَأَمَّا ظَنَنْتُ وَأَخَوَاتُهَا فَإِنَّهَا تَنْصِبُ الْمُبْتَدَأَ وَالْخَبَرَ عَلَى أَنَّهُمَا مَفْعُولَانِ لَهَا، وَهِيَ: ظَنَنْتُ، وَحَسِبْتُ، وَخِلْتُ، وَزَعَمْتُ، وَرَأَيْتُ، وَعَلِمْتُ، وَوَجَدْتُ، وَاتَّخَذْتُ، وَجَعَلْتُ، وَسَمِعْتُ؛ تَقُولُ: ظَنَنْتُ زَيْدًا قَائِمًا، وَرَأَيْتُ عَمْرًا شَاخِصًا، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

Adapun fi’il zhanantu dan saudara-saudaranya maka ia menashabkan mubtada` dan khabar karena keduanya adalah maf’ulnya. Yaitu:  ظَنَنْتُ (menyangka), وَحَسِبْتُ (menyangka), وَخِلْتُ (menyangka) وَزَعَمْتُ (menyangka), وَرَأَيْتُ (meyakini) وَعَلِمْتُ (meyakini),  وَوَجَدْتُ (meyakini), وَاتَّخَذْتُ (menjadikan) وَجَعَلْتُ (menjadikan). Contohnya, ظَنَنْتُ زَيْدًا قَائِمًا (Aku menduga Zaid itu orang yang berdiri), رَأَيْتُ عَمْرًا شَاخِصًا (Aku menduga ‘Amr itu sendirian), dan yang semisal itu.